SMA Kolese De Britto kembali menegaskan perannya sebagai ruang belajar yang hidup dan relevan dengan persoalan zaman. Pada Sabtu (7/2), ruang kaca De Britto menjadi wahana perjumpaan sekitar 26 komunitas pemerhati lingkungan se Yogyakarta, mereka yang selama ini setia bekerja di “dunia sunyi”, mengolah sampah menjadi harapan.
Komunitas yang hadir datang dari beragam latar Gerakan; pengolah goni bekas, kertas, sisa kain, botol kaca, hingga limbah rumah tangga. Meski sebagian besar telah saling mengenal lebih dari satu dekade, pertemuan ini menjadi momen langka.
“Kami sudah lama saling tahu, tapi baru kali ini duduk bareng, ngobrol hangat, dan berbagi cerita tentang gerakan kami,” ujar salah satu peserta.
Perjumpaan ini dihadirkan SMA Kolese De Britto sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih atas keterlibatan komunitas-komunitas tersebut dalam kegiatan Studi Ekskursi murid kelas X yang berlangsung pada 12–15 Januari lalu. Selama sepekan, para murid diajak turun langsung, belajar memuliakan sampah, sekaligus membangun kesadaran ekologis melalui praktik nyata bersama para pelaku gerakan lingkungan.
Dalam sambutan pembuka, Kepala SMA Kolese De Britto, R. Arifin Nugrogo, S.Si., M.Pd, menegaskan:
“Pentingnya menanamkan falsafah Jawa memayu hayuning bawana, membuat dunia menjadi indah, selamat, dan lestari, sebagai sikap hidup generasi muda. Menurutnya, pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan harus menjelma menjadi kesadaran dan keberpihakan”, penjelasannya.
Apresiasi pun datang dari para pelaku komunitas. Bimo dari komunitas Guna Goni menuturkan pengalamannya mendampingi siswa De Britto.
“Saya mengajak anak-anak mulai dari hal paling sederhana: berani kotor. Kami ke pasar tradisional yang sering ditinggalkan karena dianggap jorok,” katanya.
Hal serupa disampaikan Iskandar, pemilik Angkringan Wayang Uwuh. Ia menekankan pentingnya kemandirian pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
“Sampah seharusnya tidak keluar dari sekolah. Bisa diolah sendiri. Saya bangga, anak-anak De Britto yang gondrong-gondrong ini mau pegang sampah dan mengolahnya secara kreatif,” ujarnya.
Sementara itu, Ivan dari komunitas Otak-Atik, yang mengolah limbah kaca menjadi material bernilai guna, melihat proses belajar yang lebih dalam.
“Bukan cuma soal kaca. Saya senang karena anak-anak belajar basic life skill. Ada yang baru pertama kali memegang gerinda, tatah, bahkan menyambung kabel listrik untuk membuat lampu kaca,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan bersama ke pameran hasil Studi Ekskursi siswa di aula sekolah. Koordinator Studi Ekskursi, Novianto Eka Saputra, S.Sn:
Menjelaskan bahwa pameran ini terinspirasi dari pameran Kedai Kebun Kopi bertema “Uwuhku Tekan Ngendi?”, sebuah ajakan reflektif untuk bertanya, ke mana sebenarnya sampah kita berakhir?, katanya.
Melalui perjumpaan ini, De Britto tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang kolaborasi, tempat nilai, praktik, dan harapan bertemu demi bumi yang lebih lestari. (dina)











