Daerah  

MBG Tak Sekadar Makanan, Obrolan Gizi Jadi Topik Menarik di Keluarga

Warta Times
Ibu-ibu mengantarkan MBG dengan motor. (Foto: Dok/Ist).

Warta Times – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlahan menghadirkan perubahan di tengah keluarga penerima manfaat. Tidak hanya membawa pulang paket makanan, kini juga membawa cerita serta percakapan baru di rumah, mulai dari menu harian, jenis makanan yang cocok untuk balita, hingga jadwal ke posyandu berikutnya.

“Dulu kami jarang ngobrol soal gizi, sekarang jadi sering bahas, ini bagus buat anak atau tidak,” kata Rina, seorang penerima manfaat saat ditemui di Keranggan Setu, Tangerang Selatan, Jumat (19/12).

Hal serupa dirasakan Lilis, yang juga seorang penerima manfaat. Ia mengaku pola hidup keluarganya mulai berubah lebih baik. “Anak saya jadi terbiasa makan di jam yang sama,” ujarnya. 

Percakapan sederhana itu menandai perubahan penting. MBG menjadi pemantiknya bagi keluarga untuk lebih peduli terhadap asupan makanan. Perubahan ini tidak lahir dari sosialisasi formal, melainkan dari pengalaman yang berulang.

Banyak anggota keluarga yang ikut terlibat perbincangan tentang MBG. Seperti suami ikut menanyakan jadwal posyandu, sementara anggota keluarga lain termasuk nenek turut mengingatkan jam makan cucu. 

“Kalau sudah dibicarakan di rumah, dampaknya lebih bertahan,” kata Kepala SPPG Keranggan Setu, Adi Prabowo. 

Menurut Adi, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada apa yang akan terjadi setelah makanan dibawa pulang. “Keputusan paling penting justru terjadi setelah makanan dibawa pulang,” lanjut dia.

Lewat pengalaman ini, MBG menemukan peran yang lebih luas lebih dari sekadar program gizi dan distribusi makanan, melainkan menjadi penghubung antara dapur, posyandu, dan keluarga penerima manfaat. Perlahan tapi pasti, program ini menyatu dengan masyarakat dan berdampak positif bagi perjalanan gizi ibu dan anak.