Opini  

Social Butterfly sebagai Strategi Komunikasi yang Efektif di Dunia Kerja

Gading Octorio, Pemerhati Komunikasi dan Public Relations. (Foto: Dok/Ist).

Warta Times, Opini – Di tengah tuntutan kerja yang semakin tinggi dan waktu yang semakin terbatas, menjadi pribadi yang ramah dan selalu tersenyum saja di kantor sudah jauh dari cukup. Namun, kini keberhasilan karier tidak lagi hanya diukur dari portfolio atau pencapaian individu, melainkan dari jaringan relasi, kepercayaan, dan kemampuan membangun kolaborasi. Munculah istilah social butterfly atau cara seseorang berbaur dari satu kelompok ke kelompok lainnya dengan tetap menjaga hubungan baik yang berkualitas. Social butterfly bukan sekedar seseorang yang banyak bicara, tetapi seseorang yang mampu menjadi “jembatan” antar orang, tim, bahkan divisi, dengan gaya komunikasi yang halus, penuh empati, dan strategis dalam artian harus memahami dengan siapa lawan bicara kita, pesan apa yang sudah kita siapkan dan menghindari terjadinya misspersepsi dengan tujuan menjaga perasaan lawan bicara.

Menjadi social butterfly di dunia kerja bukan soal jadi orang yang selalu di tengah keramaian. Justru keberhasilannya terlihat dalam kekebalan terhadap gesekan emosional, kecakapan membaca situasi, dan keberanian memulai percakapan yang bermakna serta menarik. Hal ini bukan sekadar kebiasaan semata, namun sebuah keterampilan komunikasi yang bisa dipelajari dan dilatih.

Wawasan mendalam menjadi kunci utama dalam menerapkan strategi komunikasi social butterfly. Wawasan mendalam bukan berarti seseorang tersebut memiliki IQ yang tinggi ataupun mereka dengan KPI yang sempurna. Namun mereka yang memahami kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri (termasuk cara berpakaian rapih, aroma tubuh yang wangi), memahami lawan bicara, memahami situasi dan pastinya strategi komunikasi yang tepat agar pesan yang disampaikan bisa akurat. Mereka yang memiliki wawasan mendalam biasanya sangat berhati-hati dalam membuka percakapan, dalam pesan yang disampaikan harus memberikan konteks yang jelas seperti membantu, menginspirasi, atau bahkan sekedar hiburan. Seperti halnya dalam dunia public relations, di mana audience awareness adalah hal pertama yang harus diperhatikan terutama di dunia kerja.

Sikap merupakan senjata rahasia mereka. Mereka hadir bukan untuk mencari perhatian, tapi untuk memberikan dan menampilkan value yang mereka punya. Seperti dengan senyuman yang tulus, kontak mata yang hangat, cara komunikasi yang telah disesuaikan dan kehadiran yang menenangkan, mereka mampu mencairkan suasana yang kaku, bahkan di rapat yang tegang. Mereka bukan mencari “kemenangan” dalam percakapan, tapi mencari jaringan yang tenang. Hal ini sangat selaras dengan nilai public relations yaitu sebuah kepercayaan dibangun melalui konsistensi, kejujuran, dan empati yang di rasakan oleh lawan bicara.

Gaya komunikasi yang adaptif dan asertif juga menjadi hal yang penting. Social butterfly tidak mengajak bicara dengan cara yang sama untuk semua orang. Mereka tahu kapan harus singkat, kapan perlu menyelami, dan kapan harus menawarkan solusi. Mereka bukan hanya pendengar aktif, tapi juga penghubung orang yang bisa menarik ide dari satu orang ke orang lain, menciptakan dialog yang produktif tanpa merasa “dipaksakan”.

Selanjutnya kecerdasan emosional, hal ini bisa dilihat dari cara seseorang menerima, mengelola, menilai serta mengontrol emosi dirinya sendiri dan emosi orang lain di sekitarnya. Emosi disini bukan hanya sekedar marah, namun bisa juga perasaan gembira, malu, sedih, takut, tertarik, cemas dan masih banyak lagi. Kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam hubungan, mengelola kesehatan mental dan kesuksesan untuk menerapkan social butterfly di dunia kerja.

 

*) Penulis adalah Gading Octorio (Pemerhati Komunikasi dan Public Relations).