Warta Times, Jombang – Pengembangan sektor hortikultura tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan dan semangat petani. Kualitas bibit, penguasaan teknologi budidaya, serta keberlanjutan pemeliharaan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan usaha pertanian. Hal tersebut menjadi perhatian dosen Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pengembangan Budidaya Berkelanjutan melalui Pengadaan Bibit Unggul Anggur dengan Teknik Okulasi dan Grafting di Kebun Bela Negara, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2025 ini melibatkan kelompok tani setempat melalui pendekatan edukasi, demonstrasi, dan praktik langsung. Peserta memperoleh pembekalan mengenai pemilihan bahan tanaman, teknik perbanyakan vegetatif, pemeliharaan bibit, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga penanganan panen dan pascapanen. Menurut dosen Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, Bahrul Rizki Ramadhan, S.P., M.P., pengembangan budidaya anggur harus dimulai dari pembenahan kualitas bibit.
Bibit bukan sekadar bahan tanam, melainkan fondasi yang menentukan arah pertumbuhan dan potensi produktivitas tanaman dalam jangka panjang. “Dalam perspektif agronomi, keberhasilan budidaya tidak dapat dilepaskan dari kualitas bahan tanam. Petani perlu memahami bahwa bibit yang sehat, varietas yang jelas, serta teknik perbanyakan yang tepat merupakan investasi awal untuk mengurangi risiko kegagalan produksi,” ungkapnya.
Okulasi dan Grafting: Teknologi yang Perlu Dikuasai Petani

Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah penerapan teknik okulasi dan grafting atau penyambungan tanaman anggur. Kedua teknik tersebut merupakan metode perbanyakan vegetatif yang memungkinkan penggabungan karakteristik batang atas dengan keunggulan batang bawah. Melalui okulasi, mata tunas dari varietas unggul ditempelkan pada batang bawah yang sesuai. Sementara itu, teknik grafting dilakukan dengan menyambungkan batang atas atau entres dengan batang bawah sehingga keduanya dapat tumbuh sebagai satu kesatuan tanaman.
Bahrul Rizki Ramadhan, S.P., M.P., menilai bahwa penguasaan teknik perbanyakan vegetatif menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas petani menghadapi tantangan pengembangan hortikultura. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan penyambungan tidak semata-mata ditentukan oleh keterampilan teknis saat pelaksanaan. “Kompatibilitas batang bawah dan batang atas, kesehatan tanaman induk, kebersihan alat, ketepatan sayatan, serta pemeliharaan setelah penyambungan harus menjadi perhatian. Petani perlu memahami prosesnya secara menyeluruh, bukan hanya meniru langkah-langkah teknis,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat kegagalan perbanyakan dapat meningkatkan biaya produksi dan memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh tanaman siap budidaya. Oleh karena itu, penggunaan bibit yang berkualitas dan pencatatan asal-usul bahan tanaman perlu menjadi bagian dari praktik pertanian yang profesional.
Kebun Bela Negara sebagai Laboratorium Pembelajaran dan Inovasi Pertanian
Lebih dari sekadar lokasi kegiatan pengabdian, Kebun Bela Negara UPN “Veteran” Jawa Timur memiliki potensi strategis untuk dikembangkan sebagai kawasan pembelajaran, penelitian terapan, dan demonstrasi teknologi pertanian. Bahrul Rizki Ramadhan, S.P., M.P., berpandangan bahwa keberadaan kebun percontohan harus mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan di ruang kelas dan laboratorium, tetapi juga harus memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai publikasi atau materi pembelajaran. Teknologi pertanian harus diterjemahkan menjadi praktik yang dapat dipahami, diterapkan, dan dievaluasi oleh petani,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Kebun Bela Negara diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara dosen, mahasiswa, kelompok tani, dan masyarakat dalam mengembangkan teknologi budidaya yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan produksi.
Berkelanjutan Bukan Sekadar Menanam, tetapi Mengelola

Perspektif keberlanjutan menjadi penekanan penting dalam pengembangan budidaya anggur. Menurut Bahrul Rizki Ramadhan, S.P., M.P., keberlanjutan tidak boleh dimaknai sebatas kegiatan menanam dan memperbanyak tanaman, tetapi harus mencakup pengelolaan sumber daya secara efisien, pemeliharaan kesehatan tanaman, dan kesinambungan kegiatan budidaya. Penggunaan air perlu disesuaikan dengan kondisi media dan kebutuhan tanaman. Pemupukan harus dilakukan secara terukur untuk menghindari pemborosan input. Pengendalian hama dan penyakit juga perlu mengutamakan pencegahan melalui sanitasi kebun, penggunaan bahan tanaman sehat, pemantauan berkala, serta penerapan pengendalian hama terpadu.
“Budidaya berkelanjutan membutuhkan perubahan cara berpikir. Petani harus mulai mengedepankan pengelolaan berbasis pengamatan dan pencatatan, bukan hanya berdasarkan kebiasaan. Efisiensi penggunaan air, pupuk, tenaga kerja, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu menjadi bagian dari pengambilan keputusan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi setelah kegiatan pelatihan. Persentase keberhasilan okulasi dan grafting, waktu munculnya tunas, pertumbuhan daun, serta kondisi kesehatan bibit perlu dicatat secara berkala. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas teknik perbanyakan sekaligus menentukan langkah perbaikan.
Dari Pelatihan Menuju Pemberdayaan Petani Berkelanjutan
Kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur dalam mendukung pengembangan kapasitas masyarakat melalui penerapan teknologi pertanian. Melalui kombinasi penyampaian materi dan praktik lapangan, peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dalam memperbanyak, memelihara, dan mengembangkan tanaman anggur. Namun, keberhasilan kegiatan pengabdian tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah peserta atau terlaksananya pelatihan.
Dampak yang lebih substansial adalah sejauh mana pengetahuan dan keterampilan tersebut diterapkan secara konsisten dalam kegiatan budidaya. Bahrul Rizki Ramadhan, S.P., M.P., menilai bahwa keberlanjutan program memerlukan komitmen bersama antara perguruan tinggi, pengelola kebun, dan kelompok tani. Pemeliharaan bibit, pendampingan teknis, serta evaluasi perkembangan tanaman menjadi tahapan penting agar hasil kegiatan tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
“Target kita bukan hanya petani mampu melakukan okulasi dan grafting, tetapi juga mampu menghasilkan bibit yang sehat, memahami proses pemeliharaannya, dan menerapkan prinsip budidaya yang efisien. Di situlah teknologi pertanian benar-benar memberikan nilai tambah,” pungkasnya.
Melalui pengembangan budidaya anggur di Kebun Bela Negara, UPN “Veteran” Jawa Timur berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pertanian berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan kebun percontohan yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan.











