Cerita Aqsa Aufa Syauqi Sadana, Lulus S2 FK UNDIP di Usia 22 Tahun 9 bulan dengan IPK 4,00

Warta Times
Cerita Aqsa Aufa Syauqi Sadana, Lulus S2 FK UNDIP di Usia 22 Tahun 9 bulan dengan IPK 4,00
Aqsa Aufa Syauqi. (Foto: Dok/Ist).

Semarang – Bagi sebagian orang, usia 22 tahun merupakan masa untuk memulai karier. Namun, bagi Aqsa Aufa Syauqi Sadana, usia tersebut menjadi tonggak lahirnya komitmen yang lebih besar sebagai peneliti muda Indonesia. Pada prosesi Wisuda Universitas Diponegoro di Muladi Dome, Aqsa Syauqi resmi menyandang gelar Magister Ilmu Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan predikat Cum Laude dan IPK 4,00.

Pendidikan magister tersebut diselesaikan hanya dalam waktu 1 tahun 4 bulan 1 hari melalui skema Degree by Research (DBR) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Capaian tersebut semakin istimewa karena diraih saat usianya baru menginjak 22 tahun 9 bulan.

Namun, perjalanan Aqsa tidak dimulai dari ruang laboratorium. Sejak menjadi mahasiswa, ia telah aktif mengembangkan berbagai inovasi dan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Baginya, riset harus mampu menjawab tantangan, bukan sekadar memenuhi kebutuhan akademik.

Komitmen tersebut membawanya menorehkan berbagai prestasi di tingkat nasional. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika terpilih sebagai Pemenang DPD RI Award 2025. Ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tersebut memberikan apresiasi kepada generasi muda yang menghadirkan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Bagi Aqsa, pengalaman berdiri di panggung DPD RI Award bukan hanya tentang memperoleh penghargaan, tetapi juga menjadi titik balik yang semakin menguatkan keyakinannya bahwa inovasi harus memberikan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.

“Penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana penelitian dan inovasi yang kita lakukan benar-benar memberikan manfaat serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ketika ia menempuh pendidikan Magister Ilmu Biomedik, Aqsa mengkaji hubungan antara variasi genetik, paparan merkuri pada ibu hamil, serta dampaknya terhadap komplikasi kehamilan dan luaran kelahiran di bawah arahan dari dosen pembimbing dan peneliti BRIN

Di tengah kesibukan penelitian, Aqsa tetap aktif mengikuti berbagai forum ilmiah, kompetisi inovasi, serta membangun jejaring kolaborasi dengan berbagai institusi. Konsistensinya kembali membuahkan hasil ketika pada tahun ini ia berhasil lolos Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) BRIN, salah satu ajang bergengsi yang mempertemukan peneliti dan inovator dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi motivasi untuk terus menghasilkan penelitian yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi inovasi, teknologi, maupun rekomendasi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.

“Indonesia memiliki banyak generasi muda yang luar biasa. Tantangan kita bukan hanya menghasilkan penelitian yang baik, tetapi juga memastikan hasil riset dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa,” katanya.

Aqsa meyakini bahwa perjalanan akademik yang telah ditempuh hanyalah permulaan. Ke depan, ia ingin terus mengembangkan riset di bidang genetika, kesehatan lingkungan, biomarker molekuler, serta kesehatan ibu dan anak, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan inovasi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.

Ia juga menyampaikan rasa syukur atas seluruh proses yang telah dilalui serta mengucapkan terima kasih kepada keluarga, para dosen pembimbing, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, BRIN, dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam perjalanan akademiknya.

“Setiap pencapaian selalu lahir dari proses panjang dan dukungan banyak orang. Saya berharap dapat terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat Indonesia.”

Dengan bekal prestasi, pengalaman penelitian, dan semangat untuk terus berinovasi, Aqsa berharap dapat menjadi bagian dari generasi muda yang mendorong kemajuan riset Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.