Bisnis  

Pakan Tenggelam untuk Ikan Dasar: Strategi Memberi Makan Lele dan Patin

Warta Times
Pakan Tenggelam untuk Ikan Dasar: Strategi Memberi Makan Lele dan Patin
Pakan Tenggelam untuk Ikan Dasar: Strategi Memberi Makan Lele dan Patin

Kebiasaan mengamati ikan menyambar pelet di permukaan sudah begitu melekat sehingga banyak pembudidaya menganggapnya sebagai satu-satunya cara menilai keberhasilan pemberian pakan. Kebiasaan itu menyesatkan ketika komoditasnya berganti ke lele atau patin. Keduanya adalah ikan dasar yang secara alami mencari makan di lapisan bawah, mengandalkan sungut dan penciuman lebih daripada penglihatan. Memaksakan pola pemberian pakan ikan budidaya yang dirancang untuk ikan permukaan pada dua komoditas ini biasanya berujung pada pakan terbuang, pertumbuhan tidak seragam, dan air yang cepat memburuk.

Perbedaan mendasarnya ada pada cara mereka menemukan makanan. Lele dan patin bekerja dengan kemoreseptor, artinya aroma yang menyebar di air jauh lebih menentukan dibanding tampilan pelet yang terapung. Pakan tenggelam yang perlahan turun memberi waktu bagi aroma menyebar dan bagi ikan berkumpul di titik pemberian. Konsekuensinya, penilaian terhadap respons makan tidak bisa lagi dilakukan dengan melihat permukaan, dan inilah sumber kesalahan yang paling sering terjadi. Karena tidak melihat ikan menyambar, banyak pembudidaya menyimpulkan pakannya kurang, lalu menambah takaran. Padahal ikan sudah makan di bawah, dan tambahan itu langsung menjadi limbah.

Karena kontrol visual hilang, pengganti terbaiknya adalah disiplin waktu dan tempat. Berikan pakan di titik yang sama setiap hari sehingga ikan terkondisi berkumpul di situ, dan tebarkan sedikit demi sedikit selama sepuluh sampai lima belas menit alih-alih menumpahkan seluruh ransum sekaligus. Gunakan wadah pemantau semacam anco atau nampan yang diturunkan ke dasar, angkat setelah sekitar tiga puluh menit, dan periksa apakah masih ada sisa. Wadah sederhana ini mengembalikan sebagian kemampuan mengamati yang hilang, dan biayanya hampir nol.

Waktu pemberian juga perlu menyesuaikan kebiasaan alami keduanya. Lele dan patin cenderung lebih aktif pada sore menjelang malam dan dini hari. Menggeser porsi terbesar ransum ke sore hari sering meningkatkan konsumsi tanpa menambah jumlah pakan sedikit pun. Pada kolam terpal atau kolam tanah dengan kepadatan tinggi, pertimbangkan tiga kali pemberian dengan porsi terbesar di sore hari, dan hindari memberi pakan pada siang terik ketika suhu air di lapisan atas naik dan ikan justru menepi ke bagian yang lebih teduh.

Sifat fisik peletnya menuntut perhatian khusus. Pakan tenggelam berada di dasar lebih lama sebelum termakan, sehingga stabilitas di air menjadi syarat yang tidak bisa ditawar. Pelet yang hancur menjadi bubur dalam lima belas menit akan lolos dari mulut ikan dan mengendap sebagai lumpur organik. Uji sederhananya cukup dengan merendam segenggam pelet dalam air kolam selama satu jam, lalu lihat apakah bentuknya masih utuh. Perhatikan pula kadar debu di dasar karung, karena pada pakan tenggelam bagian yang hancur ini praktis mustahil termakan.

Ukuran butiran mengikuti bukaan mulut, dan pada lele perbedaannya cukup cepat. Benih lele berukuran beberapa sentimeter membutuhkan butiran halus, dan menaikkan ukuran pelet terlalu dini membuat sebagian populasi tertinggal, yang pada lele berujung pada masalah lain yang lebih mahal, yaitu kanibalisme. Menjaga keseragaman ukuran ikan lewat penyortiran berkala dan pemilihan butiran yang tepat adalah bagian dari strategi pakan, bukan urusan terpisah.

Hubungan antara pakan tenggelam dan kualitas air layak diperhatikan lebih serius dibanding pada ikan permukaan. Sisa pakan yang tidak termakan berada tepat di zona yang paling minim oksigen, sehingga penguraiannya cepat memicu amonia. Pada kolam lele padat yang jarang berganti air, kelebihan pakan sepuluh persen selama dua minggu sudah cukup mengubah warna dan bau air secara mencolok. Menyifon dasar kolam secara berkala dan menjaga ransum tetap terukur jauh lebih murah daripada memperbaiki air yang sudah rusak.

Suhu air juga menggeser seluruh perhitungan ransum, dan pada lele maupun patin pengaruhnya cukup terasa. Keduanya berdarah dingin, sehingga laju metabolisme dan nafsu makannya mengikuti suhu lingkungan. Pada musim hujan ketika suhu air turun beberapa derajat selama berhari-hari, konsumsi pakan bisa menyusut cukup banyak, dan memaksakan ransum seperti biasa berarti menumpuk sisa pakan di dasar tepat ketika kemampuan kolam mengurai limbah sedang melemah. Turunkan ransum secara bertahap mengikuti pembacaan nampan, lalu naikkan lagi ketika cuaca membaik. Pada kolam tanah, sumbangan pakan alami juga berubah menurut musim dan kesuburan air, sehingga dua kolam dengan jumlah ikan sama bisa membutuhkan takaran pakan yang berbeda tanpa ada yang salah pada pengelolaannya.

Satu hal yang perlu diluruskan, pakan tenggelam bukan berarti pakan berkualitas rendah. Sifat tenggelam adalah pilihan rancangan yang menyesuaikan perilaku makan komoditasnya, bukan penanda mutu. Yang menentukan mutu tetap sama, yaitu kandungan gizi yang sesuai fase, daya cerna, stabilitas di air, dan konsistensi antarbatch.

Sebelum pembelian berikutnya, tanyakan secara spesifik kepada pemasok Anda dua hal yang jarang ditanyakan, yaitu sifat pakan apakah tenggelam atau apung, dan berapa lama pelet dirancang bertahan utuh di air. Kedua jawaban itu lebih menentukan hasil di kolam lele dan patin dibanding angka protein yang biasanya ditanyakan lebih dulu. Sambil menyusun daftar pertanyaan tersebut, telusuri karakteristik ragam pakan ikan budidaya yang tersedia untuk memahami perbedaan rancangan antara pakan ikan dasar dan ikan permukaan.